Menu diatas disusun untuk
kelompok umur 13-18 tahun dengan prinsip
menu meditenian dengan gangguan pernapasan disertai atopic. Penyakit seperti
asma, rinitis alergi, atau eksim atopik telah meningkat dalam beberapa dekade
terakhir, dan insiden tertinggi. Salah satu penjelasan kenaikan itu dari
pandangan lingkungan berkaitan dengan perubahan dalam diet.(1) Dalam diet ini di modifikasi dari
salah satu diet tradisional yaitu diet Mediterania (MedDiet). Istilah MedDiet
mengacu pada pola diet di wilayah Mediterania. MedDiet ditandai dengan asupan
tinggi buah-buahan dan sayuran, roti dan sereal gandum, kacang-kacangan, dan
kacang-kacangan; konsumsi rendah untuk produk susu dan telur; dan jumlah
terbatas daging dan unggas. Diet ini rendah asam lemak jenuh dan kaya
antioksidan, karbohidrat, dan serat. Ini juga memiliki kandungan asam lemak tak
jenuh tunggal yang tinggi dan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) n -3, terutama
berasal dari minyak zaitun (dari ikan di beberapa daerah). Diet memiliki
pengaruh terhadap mereka yag ener patuh
menjalani terutama dengan keluhan asma, rinitis alergi, dan dermatitis (2)
Peran
menguntungkan dengan konsumsi minyak zaitun pada diet mediteranian saat ini
diakui secara luas berdampak positif dengan kesehatan, ini disebabkan oleh
adanya lipid tak jenuh tunggal dan / atau fraksi antioksidan dari
mikrokonstituen yang ada dalam minyak zaitun. Dibuktikan dengan penelitian
bahwa peran minyak zaitun di antaranya: sebagai parameter metabolic,perbaikan
peradangan, (3) Temasuk masalah alergik dan
stress oksidatif ini dikaitakan dengan kandungan minyak zaitun seperti adanya
asam lemak tak jenuh ganda omega-3, asam docosahexaenoic, asam
eicosapentaenoic, asam α-linolenat, dan asam linoleate, vitamin A dan E. (4)
Pada suatu
penelitian menunjukan bahwa minyak zaitun memberikan dampak positif pada
perbaikan pernapasan yang merupakan bagian dari prinsip diet mediteranian (5) Kacang-kacangan, khususnya
kedelai sumber utama isoflavon. Dan vitamin C yang dapat memperlihatkan peranan
senyawa yang mempunyai kemampuan sebagai antioksidan (6) bahwa konsumsi makanan
kedelai terkait dengan rendahnya tingkat sirkulasi IL-6, TNFα, dan sTNF-R1 dan
2, sitokin penting dalam kaskade inflamasi. Kedelai secara substansial
menurunkan kadar faktor nekrosis tumor-α (TNFα), interleukin (IL) -6, protein
reaktif-C (CRP), IL-18, dan nitrat oksida(7)
Ikan tuna, ikan
kembung dan daging merah memiliki kandungan omega 3 (8)(9)(10)(11). Omega 3 merupakan salah satu
kandungan yang terdapat pada menu mediteranian .konsumsi minyak ikan yang
diperkaya lemak tak jenuh dapat mengurangi konversi asam arakidonat bebas
menjadi leukotrien B4, yang memainkan peran kunci dalam kondisi inflamasi dan atopic.
(12)
Sebuah studi
menjelasakan bahwa jahe dapat berpengaruh terhadap alergi dan dapat digunakan
untuk pencegahan gangguan alergi yang dimediasi IgE termasuk rinitis alergi
memalui mekanisme 6-gingero. 6-gingero adalah
agen imunosupresif potensial yang berkontribusi terhadap "Menenangkan"
respon imun yang dimediasi sitokin (13)
Buah dan sayur
merupakan salah satu jenis makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral
tertuama antioksidan yang penting untuk menu mediteranian dan asupan makanan
yang tinggi dari buah-buahan dan sayuran
memiliki peran protektif terhadap prevalensi gejala seperti asma dan
rinitis alergi. (1)
Dalam literature
lain menjelasakan bahwa mereka yang mengkonsusi buah dan sayur serta lemak yang
baik dapat mencegah dari gangguan alergi (14)
Pada menu diatas
di buat dengan komposisi berdasarkan prinsip gizi seimbang dengan Pola
diet Mediterania yang mencakup serangkaian makanan khas dengan efek
menguntungkan melawan peradangan dan oksidasi, seperti ikan berlemak, sayuran,
kacang-kacangan dan buah-buahan segar, kacang-kacangan dan minyak zaitun yang
kaya akan antioksidan (vitamin C dan E, beta-karoten dan folat), senyawa
fenolik, flavonoid), dan asam lemak mono dan tak jenuh ganda.
Asma adalah
gangguan pernapasan kronis yang berhubungan dengan peradangan saluran napas.
Faktor lingkungan, dalam hubungannya dengan kerentanan genetik, memainkan peran
penting dalam patofisiologi asma. Alergen yang dihirup, paparan asap, polusi
udara dalam dan luar ruangan adalah pemicu umum gejala asma. Diet Mediterania,
dengan asupan buah dan sayuran yang tinggi memiliki sifat anti-inflamasi. Secara
umum, diet-Med diyakini memiliki manfaat kesehatan, sebagian besar disebabkan
oleh kandungan serat, antioksidan, protein, dan jumlah lemak sedang, terutama
dari mono-unsaturated (MUFA) dan omega-3 PUFA. (15)
Diet mediteranian menawarkan anti
inflamasi karena adanya kandungan seperti asam lemak tak jenuh misalnya, MUFA,
omega-3 PUFA dan antioksidan. Efek anti-inflamasi ini melalui mekanisme penurunan
signifikan protein plasma C-reaktif (CRP), IL-6 dan molekul adhesi intraseluler-1
(ICAM-1) (16)
Sebuah studi menyimpulkan bahwa asupan
EPA + DHA menunjukkan efek perlindungan pada gejala pernapasan pada subkelompok
yang terpapar segudang bahaya peradangan non-diet, khususnya, perokok dan status sosial ekonomi rendah (17)
Konsumsi buah-buahan, sayuran dan
antioksidan dapat menurunkan peradangan saluran napas salah satunya antioksidan
lycopene dengan mengurangi masuknya jalan napas neutrofil dan aktivitas sputum
neutrofil elastase. (18)
Dalam sebuah studi RCT, asupan buah
dan sayuran yang tinggi (≥5 porsi sayur dan dua porsi buah setiap hari selama
14 minggu) dikaitkan dengan lebih sedikit eksaserbasi dan peningkatan kontrol
asma dibandingkan dengan asupan buah dan sayuran yang rendah (≤5 porsi sayur
dan dua porsi buah setiap hari). Oleh
karena itu bukti saat ini menunjukkan bahwa asupan buah dan sayuran dapat
memiliki efek signifikan pada kontrol asma pada orang dewasa, sehingga
peningkatan konsumsi harus didorong pada pasien dengan asma (19)
Pasien dengan asma dan rinitis
alergi mungkin mendapat manfaat diet rendah sodium, asam lemak omega-3 tinggi
(yaitu ikan, almond, kenari, labu, dan biji rami) , bawang, dan buah-buahan dan
sayuran (setidaknya lima porsi sehari) memiliki dampak baik terdapat perbaikan
pernapasan (20)
Suatu studi menjelasakan mediteranian
adalah makanan yang kaya akan makanan dengan lemak sehat dan antioksidan alami
yang memberi efek positifnya pada fungsi paru-paru. Bahwa
peningkatan kepatuhan pada diet ini dapat mencegah penurunan fungsi paru pada
perokok dan memiliki potensi besar untuk rekomendasi pencegahan pada populasi
umum sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih sehat, terutama pada perokok
yang tidak dapat berhenti merokok (21)
Sebuah literature menjelsakan mekanisme terjadi
alergi dan diet medeteranian (1).
Dalam beberapa dekade
terakhir, salah satu perubahan lingkungan terpenting di dunia adalah pola
makan. Terutama perubahan dalam asupan lemak makanan (dengan meningkatkan n
- 6 PUFA dan menurun n - 3 PUFA), oleh karena itu peningkatan produksi prostaglandin (PG) E2
mungkin telah berkontribusi pada peningkatan prevalensi asma . PGE2 menekan
T-helper (Th) 1 dan meningkatkan fenotip Th2, sehingga mengurangi IFN-gamma.
Fenotip Th2, di mana ada peningkatan pengalihan isotipe IgE, dikaitkan dengan
asma dan penyakit atopik. Di sisi lain, asupan makanan yang rendah antioksidan
mungkin dapat meningkatkan kerentanan untuk gangguan pernapasan . Dalam hal
ini, mekanisme yang diusulkan melibatkan penurunan pertahanan antioksidan
paru-paru, menghasilkan peningkatan kerusakan jalan nafas yang diinduksi
oksidan.
Beberapa dari studi tersebut melaporkan efek menguntungkan dari makanan
tunggal yang kaya akan n -3 PUFA atau antioksidan pada asma atau
penyakit alergi. Sebuah meta-analisis menyimpulkan bahwa peningkatan konsumsi
sayuran dan buah-buahan, seng, dan vitamin A, D, dan E, terkait dengan
rendahnya prevalensi asma dan mengi pada anak-anak dan remaja. Namun, sebagian
besar studi termasuk dalam meta-analisis yang gagal menjelaskan interaksi antara
nutrisi. Namun, karena perilaku makan normal kita adalah mengikuti pola diet
tertentu yang mengandung banyak makanan tertentu, tampaknya masuk akal untuk
fokus pada pola makanan atau diet.
Diet Mediterania kaya akan antioksidan dan asam lemak tak jenuh ganda cis
. Apalagi sereal (gandum utuh) kaya akan vitamin D, asam fenolat, dan asam
fitat. Selain itu, buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan kaya akan vitamin
C dan E, karotenoid, selenium, dan flavonoid. Selain itu, minyak zaitun untuk
memasak dan saus salad adalah bagian penting dari MedDiet. Komponen aktif utama
dari minyak zaitun adalah asam oleat, turunan fenolik (hydroxytyrosol, tyrosol,
oleuropein, dan ligstroside), dan squalene, yang semuanya telah menunjukkan
aktivitas antioksidan yang nyata. Juga, oleuropein dan hydroxytyrosol (produk
hidrolisisnya) adalah di antara antioksidan yang paling kuat . Satu studi telah
menunjukkan bahwa, setelah analisis multivariat, konsumsi minyak zaitun oleh
ibu selama kehamilan dapat mencegah terjadinya gangguan pernapasa pada anak
selama tahun pertama kehidupan. Oleh karena itu, tampaknya masuk akal untuk
berpikir bahwa kepatuhan yang lebih tinggi terhadap MedDiet atau minyak zaitun
mungkin memiliki beberapa efek perlindungan pada asma dan penyakit alergi. Kemampuan
diet ini untuk mengatasi stres oksidatif mungkin memiliki efek pada awal
asma.
SUMBER:
1. Castro-Rodriguez JA, Garcia-Marcos L. What
are the effects of a mediterranean diet on allergies and asthma in children?
Front Pediatr. 2017;5(April).
2. Pellegrini-Belinchón
J, Lorente-Toledano F, Galindo-Villardón P, González- Carvajal I, Martín-Martín
J, Mallol J, et al. Factors associated to recurrent wheezing in infants under
one year of age in the province of Salamanca, Spain: is intervention possibl.
3. Tsartsou
E, Proutsos N, Castanas E, Kampa M. Network meta-analysis of metabolic effects
of olive-oil in humans shows the importance of olive oil consumption with
moderate polyphenol levels as part of the mediterranean diet. Front Nutr.
2019;6.
4. Fitó
M, De La Torre R, Covas MI. Olive oil and oxidative stress. Mol Nutr Food Res.
2007;51(10):1215–24.
5. Cazzoletti
L, Zanolin ME, Spelta F, Bono R, Chamitava L, Cerveri I, et al. Dietary fats,
olive oil and respiratory diseases in Italian adults: A population-based study.
Clin Exp Allergy. 2019;49(6):799–807.
6. Pertiwi
SF, Aminah S, Nurhidajah. Aktivitas Antioksidan , Karakteristik Kimia , Dan
Sifat Berdasarkan Variasi Waktu Perkecambahan Antioxidant Activity , Chemistry
Characteristic , And Organoleptic Properties Of Sprouts Milk Of Black Soybean (
Glycine Soja ) According To Variation Of Time. J Pangan dan Gizi.
2013;04(08):1–8.
7. Wu
SH, Shu XO, Chow WH, Xiang YB, Zhang X, Li HL, et al. Soy Food Intake and
Circulating Levels of Inflammatory Markers in Chinese Women. J Acad Nutr Diet.
2012;112(7).
8. Maqbool
A, Strandvik B, Stallings VA. The skinny on tuna fat: Health implications.
Public Health Nutr. 2011;14(11):2049–54.
9. Estiasih
T, Ahmadi K, Nisa FC, Kusumastuti F. Optimasi Kondisi Pemurnian Asam Lemak
Omega-3 Dari Minyak Hasil Samping Penepungan Tuna (Thunnus sp.) Dengan
Kristalisasi Urea. J Teknol dan Ind Pangan. 2009;20(2):135–42.
10. Salamah
E, Hendarwan, Yunizal. Studi tentang asam lemak omega-3 dari bagian-bagian
tubuh ikan kembung laki-laki (. 2004;VIII(Ii):30–6.
11. De
Almeida JC, Perassolo MS, Camargo JL, Bragagnolo N, Gross JL. Fatty acid
composition and cholesterol content of beef and chicken meat in Southern
Brazil. Rev Bras Ciencias Farm J Pharm Sci. 2006;42(1):109–17.
12. Chari
S, Clark-Loeser L, Shupack J, Washenik K. A role for leukotriene antagonists in
atopic dermatitis? Am J Clin Dermatol. 2001;2(1):1–6.
13. Kawamoto
Y, Ueno Y, Nakahashi E, Obayashi M, Sugihara K, Qiao S, et al. Prevention of
allergic rhinitis by ginger and the molecular basis of immunosuppression by
6-gingerol through T cell inactivation. J Nutr Biochem. 2016;27:112–22.
14. Ito
M, Morita T, Okazaki S, Koto M, Ichikawa Y, Takayama R, et al. Dietary habits
in adult Japanese patients with atopic dermatitis. J Dermatol.
2019;46(6):515–21.
15. Carrera-Bastos,
P.; Fontes-Villalba, M.; O’Keefe, J.; Lindeberg, S.; Cordain, L. The Western
diet and lifestyle and diseases of civilization. Res. Rep. Cin. Cardiol. 2011,
2, 15–35.
16. Schwingshackl,
L.; Hoffmann, G. Mediterranean dietary pattern, inflammation and endothelial
function: A systematic review and meta-analysis of intervention trials. Nutr.
Metab. Cardiovasc. Dis. 2014, 24, 929–939.
17. Lemoine
SCM, Brigham EP, Woo H, Hanson CK, McCormack MC, Koch A, et al. Omega-3 fatty
acid intake and prevalent respiratory symptoms among U.S. adults with COPD. BMC
Pulm Med. 2019;19(1):1–9.
18. Romieu,
I.; Barraza-Villarreal, A.; Escamilla-Nunez, C.; Texcalac-Sangrador, J.L.;
Hernandez-Cadena, L.; Diaz-Sanchez, D.; De Batlle, J.; Del Rio-Navarro, B.E.
Dietary intake, lung function and airway inflammation in Mexico City school
children exposed to.
19. Wood,
L.G.; Garg, M.L.; Smart, J.M.; Scott, H.A.; Barker, D.; Gibson, P.G.
Manipulating antioxidant intake in asthma: A randomized controlled trial. Am.
J. Clin. Nutr. 2012, 96, 534–543.
20. Jaber
R. Respiratory and allergic diseases: From upper respiratory tract infections
to asthma. Prim Care - Clin Off Pract. 2002;29(2):231–61.
21. Martín-Luján
F, Catalin RE, Salamanca-González P, Sorlí-Aguilar M, Santigosa-Ayala A,
Valls-Zamora RM, et al. A clinical trial to evaluate the effect of the
Mediterranean diet on smokers lung function. npj Prim Care Respir Med
[Internet]. 2019;29(1). Available from:
http://dx.doi.org/10.1038/s41533-019-0153-7
Komentar
Posting Komentar